Cerita Rakyat Indonesia | Indonesian Folklore
Ranked #1,593 in Books, Poetry & Writing, #69,201 overall
Cerita Rakyat Indonesia
Berisi kumpulan cerita rakyat Indonesia yang di dapat dari berbagai sumber - rencananya mau saya translate ke Bahasa Inggris juga, yah supaya bisa sekalian mengenalkan cerita rakyat (folklore) asli Indonesia ke orang-orang di luar sana.
So, I really appreciate your advise to make this lens get better - thank you (^_^)
Tunggu update dari saya berikutnya yah?
Selamat membaca (^_^)
*diperbolehkan copas demi kebahagiaan bersama, duilee*
So, I really appreciate your advise to make this lens get better - thank you (^_^)
Tunggu update dari saya berikutnya yah?
Selamat membaca (^_^)
*diperbolehkan copas demi kebahagiaan bersama, duilee*
Lutung Kasarung
Language: Bahasa Indonesia
Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa. Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan, Patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.
Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga-bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin di telaga tersebut.
Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
"Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak- bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?"
Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya di hutan dalam wujud seekor lutung.
Timun Mas
Language: English
Long time ago, lived an old women named Mbok Sirni. She lived by herself because her husband had long passed away and she had no children. Every day, she prayed so God would give her a child. One night, when she was praying, a giant passed her house and heard her pray. "I can give you a child on one condition," the giant said to Mbok Sirni, "You must give the child back to me when it is six years old." Mbok Sirni was so happy; she did not think about the risk of losing the child later and agreed to take the giant's offer. The giant then gave her a bunch of cucumber seeds. "Plant it around your house." The giant then left without saying anything else. In the morning, Mbok Sirni planted the seeds. The seeds grew within mere days, and blossomed plentifully.Not longer after that, a big golden cucumber grew from plants. Carefully, Mbok Sirni plucked the golden cucumber and carried it home. With caution and care, she sliced the cucumber. She was very surprised to see a beautiful baby girl inside the cucumber. She then named the baby Timun Mas (it means Golden Cucumber).Years passed by and Timun Mas has grew to become a lovely and beautiful little girl. She was also smart and kind. Mbok Sirni loved her very much. But she kept thinking about the time the giant would take Timun Mas away from her. One night, Mbok Sirni had a dream. In order to save Timun Mas from the giant, she had to meet the holy man who lived in Mount Gundul. The next morning, Mbok Sirni took leave of Timun Mas to go to Mount Gundul. The holy man then gave her four little bags, each one containing cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. "Timun Mas can use these to protect herself," said the holy man to Mbok Sirni.
A few days later, the giant came to see Mbok Sirni about her promise. "Mbok Sirni! Where is Timun Mas?" shouted the giant. "My daughter, take these bag with you. It can save you from the giant. Now, run through the back door," said Mbok Sirni. But the giant saw Timun Mas running to the woods. The giant was angry. Starved and enraged, he rushed toward Timun Mas. Mbok Sirni tried to stop him, but the giant was unstoppable.
The giant was getting closer and closer, so Timun Mas opened the first bag she got from Mbok Sirni. Inside the bag were cucumber seeds. She threw the seeds, and instantly they grew into large cucumber field. But the giant ate them all, giving him more strength. As the giant was getting close, Timun Mas took the second bag with needles inside and spilled the content behind her. The needles turned into bamboo trees, sharp and thorny. The giant's body was scratched and bled. "Aaargh, I'll get you, Timun Mas!" shouted the giant as he tried to get himself out from the bamboo field. He made it and still chasing Timun Mas.
Timun Mas then reached the third bag and spilled the salt inside. The ground which the salt touched turned into a deep sea. The giant almost drown and had to swim to cross the sea. After some time, he managed to get out from the water. Timun Mas saw the giant coming, so she reached for the last bag. She took the shrimp paste and threw it. The shrimp paste became a big swamp of boiling mud. The giant was trapped in the middle of the swamp. The mud slowly but surely drowned him. Helpless, he roared out, "Help! Heeeeelp%u2026!" Then the giant drown and died. Timun Mas then immediately went home. Since then, Timun Mas and Mbok Sirni live happily ever after.**
Malin Kundang
Language: Bahasa Indonesia
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga yang memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba- tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.
"Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Hikmah [Malin Kundang]
Sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan semua jasa orangtua terutama kepada seorang Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya, apalagi jika sampai menjadi seorang anak yang durhaka. Durhaka kepada orangtua merupakan satu dosa besar yang nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.
Dayang Bandir
Language: English
Once upon a time, there were two kingdoms in North Sumatra, the Eastern Kingdom and the Western Kingdom. The Eastern King got married with the Western King's sister. Later, they had a baby girl. They named her Dayang Bandir. Seven years later, they had another child. They named him Sandean Raja.
When Sandean Raja was a kid, his father, the Eastern King died. The rule said that the king's son would be the next king. However, Sandean Raja was still a kid. He had to wait until he was adult to be the king. The elderly of the kingdom asked Uncle Kareang to be the king. Uncle Kareang was the Eastern King's younger brother.
The Eastern king had a magical sword. Uncle Kareang wanted to have the sword. Without the sword, he was only the temporary king. He was looking for the sword everywhere but he could not find it. he knew Dayang Bandir hid the sword. She wanted to give the sword to her brother, Sandean Raja, when he was adult. She wanted her brother to be the next king. Uncle Kareang was really angry. He asked the soldiers to take Dayang Bandir and Sandean Raja to the jungle.
Soldiers then tied Dayang Bandir on top of a big tree in the jungle. They would bring her down after Dayang Bandir told them where the sword was. But she never told them. Then the soldiers left Dayang Bandir and Sandean Raja alone in the jungle. Sandean Raja cried under the big tree. He could not climb the big tree. Everytime he tried to climb, he fell down. Days passed by. Dayang Bandir was getting weaker and weaker. She finally died.
Sandean Raja then left alone in the jungle. He was not really alone actually. Her sister spirit always accompanied him. They still could talk each other.
When Sandean Raja was adult, he decided to go to the Western Kingdom. The King, King Soma, was his uncle. He wanted to talk about his bad experience.
King Sorma was surprised when he met Sandean Raja. He heard that sandean Raja and Dayang Bandir died in the jungle. He was not sure that Sandean Raja was really his nephew.
"If you are really my nephew, remove that big tree," said king Sorma.
Sandean Raja was a powerful man. He could remove that big tree easily.
"I have the last test. Go to that dark room. There are many girls there. Which one is my daughter?' said King Sorma.
"Don't worry, my brother, I will help you," said Dayang Bandir's spirit.
Sandean Raja then could find the King Sorma's daughter. The king then was sure that the young man was really his nephew. After that, Tandean Raja told told him about his sister and all his bad experience with Uncle Kareang. King Soma then asked his soldier to attack the Eastern Kingdom.
The Western Kingdom won the war. Sandean Raja then became the king of the kingdom. Later, her sister's spirit told him where the sword was
Wisdom:
To prove the truth takes a hard exam. Only people who are enthusiastic, patient and a big heart that can pass the test no matter how.
Source: Indonesian Folklore
When Sandean Raja was a kid, his father, the Eastern King died. The rule said that the king's son would be the next king. However, Sandean Raja was still a kid. He had to wait until he was adult to be the king. The elderly of the kingdom asked Uncle Kareang to be the king. Uncle Kareang was the Eastern King's younger brother.
The Eastern king had a magical sword. Uncle Kareang wanted to have the sword. Without the sword, he was only the temporary king. He was looking for the sword everywhere but he could not find it. he knew Dayang Bandir hid the sword. She wanted to give the sword to her brother, Sandean Raja, when he was adult. She wanted her brother to be the next king. Uncle Kareang was really angry. He asked the soldiers to take Dayang Bandir and Sandean Raja to the jungle.
Soldiers then tied Dayang Bandir on top of a big tree in the jungle. They would bring her down after Dayang Bandir told them where the sword was. But she never told them. Then the soldiers left Dayang Bandir and Sandean Raja alone in the jungle. Sandean Raja cried under the big tree. He could not climb the big tree. Everytime he tried to climb, he fell down. Days passed by. Dayang Bandir was getting weaker and weaker. She finally died.
Sandean Raja then left alone in the jungle. He was not really alone actually. Her sister spirit always accompanied him. They still could talk each other.
When Sandean Raja was adult, he decided to go to the Western Kingdom. The King, King Soma, was his uncle. He wanted to talk about his bad experience.
King Sorma was surprised when he met Sandean Raja. He heard that sandean Raja and Dayang Bandir died in the jungle. He was not sure that Sandean Raja was really his nephew.
"If you are really my nephew, remove that big tree," said king Sorma.
Sandean Raja was a powerful man. He could remove that big tree easily.
"I have the last test. Go to that dark room. There are many girls there. Which one is my daughter?' said King Sorma.
"Don't worry, my brother, I will help you," said Dayang Bandir's spirit.
Sandean Raja then could find the King Sorma's daughter. The king then was sure that the young man was really his nephew. After that, Tandean Raja told told him about his sister and all his bad experience with Uncle Kareang. King Soma then asked his soldier to attack the Eastern Kingdom.
The Western Kingdom won the war. Sandean Raja then became the king of the kingdom. Later, her sister's spirit told him where the sword was
Wisdom:
To prove the truth takes a hard exam. Only people who are enthusiastic, patient and a big heart that can pass the test no matter how.
Source: Indonesian Folklore
Great Stuff on Amazon
Story Book Children
Source Link
- Indonesian Folklore
- Indonesian Folklore Collection
- Cerita Anak
- Kumpulan Cerita Anak-Anak
Apa cerita favorit.mu ?
-
-
surudsore
Feb 26, 2012 @ 7:55 pm | delete
- Wah keren nih.. andai bisa lebih banyak cerita bahasa inggrisnya lebih baik tu....
-
by windascorfi
Hello world. This is my bio. I can edit it later! No. I will edit it now.
Name is Winda Scorfi - call me Winda
26 years old - married (just married) a...
more »
- 4 featured lenses
- Winner of 3 trophies!
- Top lens » Cerita Rakyat Indonesia | Indonesian Folklore
Feeling creative?
Create a Lens!
Explore related pages
- 50 Good Luck Symbols From Around The World 50 Good Luck Symbols From Around The World
- Mythical Creatures Coloring Books, Pages, Clipart Mythical Creatures Coloring Books, Pages, Clipart
- Amulets and Symbols of Protection Amulets and Symbols of Protection
- Best Books on the Legend of King Arthur Best Books on the Legend of King Arthur
- Symbols and Traditions of Friendship Symbols and Traditions of Friendship
- Typisk norsk - What is typical Norwegian? Typisk norsk - What is typical Norwegian?