JK - Wiranto Akhirnya Maju
Ranked #53,150 in Culture & Society, #1,180,813 overall | Donates to Squidoo Charity Fund
Sekilas wawancara Metro TV
Pemilu 2009 ini memang agak aneh, perhitungan suara aja belum selesai (baru 47 juta suara), partai-partai udah pada berkoalisi sana-sini dan mengajukan calon presiden. (atau memang dari dulu juga pemilu udah kayak begitu? Karena ini pemilu pertama saya, maaf kalau saya yang kuper) Gimana jadinya kalau setelah koalisi dibentuk, capres dan cawapres udah ditunjuk, eh perolehan suaranya malah ga sampai target. Ga ngerti deh.
Pasangan pertama yang sudah dipastikan maju adalah JK-Wiranto. Pasangan ini bisa dibilang cukup aneh karena Wiranto adalah mantan "barisan sakit hati" partai Golkar yang 5 tahun lalu mengajukan diri sebagai capres dari Golkar tapi kalah oleh JK yang mengajukan diri jadi cawapres SBY.
Tadi sekilas saya melihat acara wawancara JK-Wiranto di Metro TV. Pewawancara dari Metro TV memang cukup "pedas" dan "galak", terus mencoba memanas-manasi perbedaan kedua bapak ini. Berikut cuplikan wawancara berdasarkan versi yang masih saya ingat. (pasti banyak yang salah, jadi CMIIW)
Metro: Bagaimana Bapak Wiranto bisa menjadi pasangan Pak Jusuf Kalla? Bukankah Bapak bisa dibilang termasuk "golongan oposisi" yang menentang pemerintahan yang sedang berjalan? Saya masih ingat spanduk-spanduk Bapak pada masa kampanye yang menkritik kebijakan-kebijakan pemerintah
Wiranto: Ya kami memang memberikan kritik karena merasa ada kekurangan pada pemerintahan yang sekarang. Golkar memang sudah banyak membangun bangsa ini secara fisik, tapi bangsa ini masih banyak kekurangan dari segi spiritual. Karena itulah partai Hanura mencoba untuk melengkapi kekurangan ini. Jadi slogannya "Terus berkarya dengan hati nurani". Kalau saya mengkritik kebijakan pemerintah, bukan berarti saya menjadi memusuhi pemerintah. Bangsa ini harus bersatu. Kalau bangsa ini terpecah-pecah, bagaimana kita mau maju ke depan?
Metro: Tapi apakah berarti Pak Jusuf Kalla setuju dengan kritik-kritik yang diberikan oleh Pak Wiranto? Saya masih ingat setahun yang lalu saya pernah mewawancarai Pak Jusuf Kalla dan Pak Wiranto dalam sebuah sesi. Waktu itu Pak Wiranto dan Pak Jusuf Kalla tidak sependapat mengenai angka kemiskinan di negeri ini.
Jusuf Kalla: Kesepakatan tentang angka itu kan bisa berbeda-beda. Ada sebuah fondasi dasar yang harus kita ingat, negara Indonesia kan negara demokrasi. Ada pihak pemerintah yang melaksanakan kebijakan dan ada pihak pengkritik yang mengkritik kebijakan, keduanya harus berjalan bersamaan. Kesalahan pada pemerintahan memang mungkin saja terjadi, pemerintah harus mau menerima kritik agar pemerintahan bisa berjalan lebih baik.
Pandai berbicara memang syarat mutlak bagi para pemimpin. Banyak hal yang dikemukakan kedua Bapak memang benar adanya, pemerintah harus mau dikritik dan ada kalanya kita perlu bekerja sama dengan orang yang kita kritik sekalipun. Tapi apakah ucapan tersebut dilontarkan dengan setulus hati? Jika ya, syukurlah. Jika tidak.... siapa yang tahu.
Pasangan pertama yang sudah dipastikan maju adalah JK-Wiranto. Pasangan ini bisa dibilang cukup aneh karena Wiranto adalah mantan "barisan sakit hati" partai Golkar yang 5 tahun lalu mengajukan diri sebagai capres dari Golkar tapi kalah oleh JK yang mengajukan diri jadi cawapres SBY.
Tadi sekilas saya melihat acara wawancara JK-Wiranto di Metro TV. Pewawancara dari Metro TV memang cukup "pedas" dan "galak", terus mencoba memanas-manasi perbedaan kedua bapak ini. Berikut cuplikan wawancara berdasarkan versi yang masih saya ingat. (pasti banyak yang salah, jadi CMIIW)
Metro: Bagaimana Bapak Wiranto bisa menjadi pasangan Pak Jusuf Kalla? Bukankah Bapak bisa dibilang termasuk "golongan oposisi" yang menentang pemerintahan yang sedang berjalan? Saya masih ingat spanduk-spanduk Bapak pada masa kampanye yang menkritik kebijakan-kebijakan pemerintah
Wiranto: Ya kami memang memberikan kritik karena merasa ada kekurangan pada pemerintahan yang sekarang. Golkar memang sudah banyak membangun bangsa ini secara fisik, tapi bangsa ini masih banyak kekurangan dari segi spiritual. Karena itulah partai Hanura mencoba untuk melengkapi kekurangan ini. Jadi slogannya "Terus berkarya dengan hati nurani". Kalau saya mengkritik kebijakan pemerintah, bukan berarti saya menjadi memusuhi pemerintah. Bangsa ini harus bersatu. Kalau bangsa ini terpecah-pecah, bagaimana kita mau maju ke depan?
Metro: Tapi apakah berarti Pak Jusuf Kalla setuju dengan kritik-kritik yang diberikan oleh Pak Wiranto? Saya masih ingat setahun yang lalu saya pernah mewawancarai Pak Jusuf Kalla dan Pak Wiranto dalam sebuah sesi. Waktu itu Pak Wiranto dan Pak Jusuf Kalla tidak sependapat mengenai angka kemiskinan di negeri ini.
Jusuf Kalla: Kesepakatan tentang angka itu kan bisa berbeda-beda. Ada sebuah fondasi dasar yang harus kita ingat, negara Indonesia kan negara demokrasi. Ada pihak pemerintah yang melaksanakan kebijakan dan ada pihak pengkritik yang mengkritik kebijakan, keduanya harus berjalan bersamaan. Kesalahan pada pemerintahan memang mungkin saja terjadi, pemerintah harus mau menerima kritik agar pemerintahan bisa berjalan lebih baik.
Pandai berbicara memang syarat mutlak bagi para pemimpin. Banyak hal yang dikemukakan kedua Bapak memang benar adanya, pemerintah harus mau dikritik dan ada kalanya kita perlu bekerja sama dengan orang yang kita kritik sekalipun. Tapi apakah ucapan tersebut dilontarkan dengan setulus hati? Jika ya, syukurlah. Jika tidak.... siapa yang tahu.
by vangoz
vangoz
I'm an undergraduate student studying in Informatics Engineering, ITB. Nice to meet you.
- 0 featured lenses
- Winner of 2 trophies!
- Top lens »
Feeling creative?
Create a Lens!
Fetching RSS feed... please stand by