Kumpulan Cerpen Cinta Gratis... Disini Tempatnya!!
Ranked #625 in Books, Poetry & Writing, #29,077 overall
Kenapa harus cerita cinta?
Seorang teman pernah bertanya, "Kenapa selalu cinta (melulu) sih?"
Jawaban simpelnya begini, karena cinta adalah hal yang paling mendasar di dalam kehidupan manusia. Setiap orang, di dalam hidupnya, pasti pernah menyukai salah satu, atau semuanya, dari beberapa hal berikut ini:
1. suka membaca cerita cinta
2. suka menonton drama tentang cinta, atau
3. suka mendengarkan lagu cinta
Berangkat dari hal itulah lensa ini dibuat. Oke, cukup basa-basinya! Berikut ini beberapa cerpen cinta yang mungkin-akan-kamu-suka (saya sangat merekomendasikannya!)
Jawaban simpelnya begini, karena cinta adalah hal yang paling mendasar di dalam kehidupan manusia. Setiap orang, di dalam hidupnya, pasti pernah menyukai salah satu, atau semuanya, dari beberapa hal berikut ini:
1. suka membaca cerita cinta
2. suka menonton drama tentang cinta, atau
3. suka mendengarkan lagu cinta
Berangkat dari hal itulah lensa ini dibuat. Oke, cukup basa-basinya! Berikut ini beberapa cerpen cinta yang mungkin-akan-kamu-suka (saya sangat merekomendasikannya!)
Nah, ini dia cerpen cinta yang saya janjikan!
[ini hanya review singkat; scroll ke bawah untuk langsung membaca cerpennya]
- Beri Aku Isyarat
- Cerpen ini bercerita tentang Dita yang merasa selalu dijahili oleh Ruben setiap hari di sekolahnya. Sampai suatu ketika Dita merasa dipermalukan oleh Ruben di depan guru dan teman-teman sekelasnya, Dita marah sekali dan memutuskan untuk membenci Ruben. Namun sejak itu, bukan kebebasan dari kejahilan-kejahilan serta gangguan Ruben yang ia rasakan berhari-hari setelahnya, melainkan kesepian... dan juga kerinduan terhadap canda tawa Ruben.
Dita mulai berpikir ulang tentang perasaannya yang sebenarnya terhadap Ruben. Meski ia berusaha membohongi dirinya, tapi Manda, sahabatnya, mendorongya untuk jujur dan mengikuti kata hatinya.
Baca cerpen ini selengkapnya disini. - Cappuccino-mate
- Kali ini bercerita tentang Ega yang yang menjadi 'tong sampah' tempat curhat sahabatnya, Nadine. Di sebuah kafe tempat mereka biasa nongkrong, Nadine bercerita dengan terisak tentang pacarnya, Zakki, yang selingkuh dengan teman sebangkunya.
Ega sebenarnya sudah mengetahui hal ini. Hanya saja ia sengaja tidak memberitahu Nadine karena tak ingin melihat Nadine sedih. Di matanya Ega hanya ingin melihat Nadine yang ceria dan selalu tersenyum, Nadine yang diam-diam disukainya sejak lama...
Baca cerpen ini selengkapnya disini. - Cerpen cinta lainnya...
- Klik disini untuk membaca lebih banyak lagi cerpen cinta.
Beri Aku Isyarat #1
by Adhi Glory
Hujan turun cukup deras sepanjang sore itu. Aku berdiri di sudut kamarku sambil menatap ke luar lewat jendela kamarku. Sementara rintik-rintik hujan seolah mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku di antara volume mp3 yang kusetel di komputer. Saat itu sedang mengalun lagu "Heaven"-nya Bryan Adams (versi akustik yang dinyanyikan ulang oleh DJ Sammy). Tanpa kusadari jari telunjukku seolah bergerak sendiri--entah itu terpengaruh oleh ritmik lagu atau tidak--dan membentuk sebuah nama di atas kaca jendela yang berembun. R-U-B-E-N. lalu tanpa bisa kucegah lagi anganku pun segera membayangkan tentang sosok cowok itu...
Uh, menyebalkan! Kenapa sih aku mesti memikirkannya?
Namun detik berikutnya diriku benar-benar telah hanyut terbuai dalam lamunan...
Aku ingat, dan akan selalu kuingat, ada banyak saat 'indah' dan 'aneh' yang kulalui sama Ruben. Setiap hari di sekolah terasa begitu menyebalkan sekaligus... menyenangkan (uh, aku malas sekali sebenarnya untuk mengakuinya!) bersamanya.
Misalnya, pada saat jam pelajaran terakhir hari itu aku sedang konsentrasi mencatat penjelasan Bu Matilda, Guru Bahasa Inggris-ku, di papan tulis. Tiba-tiba sebuah bola kertas jatuh tepat di atas kepalaku. Itu adalah selembar kertas yang telah diremas sedemikian rupa hingga berbentuk menyerupai bola seukuran bola pingpong. Tuk!
Sial, siapa yang menimpukku? Pasti dia!
Aku segera menoleh ke meja Ruben yang terletak dua meja dari deretan belakang di lajur sebelah kananku. Kulihat cowok itu sedang nyengir, menikmati kesuksesan arah lemparannya yang akurat. Cengirannya persis kuda sumbawa--hieee...!
Sambil berdengus, aku lalu memungut kertas yang dilemparkannya itu. Kemudian kubuka, kubaca tulisan yang tertera di dalamnya. Berikut bunyinya:
"Dita jelek!
Wajah lo kelihatan tambah jelek kalau lagi serius nyatet seperti itu, tau! :D
--Ruben"
Wajahku langsung berkerut. Lobang hidungku bergerak kembang kempis meradang geram. Sial! makiku dalam hati. Dasar cowok menyebalkan!-Gue benciiii...
Aku lalu menuliskan kekesalanku itu di balik kertas yang dilemparkannya padaku tadi, kuremas, dan kulemparkan kembali bola kertas itu ke meja si empunya.
"Dita!" Tiba-tiba terdengar suara Bu Matilda menyalak-eh, berseru! "Apa yang kamu lemparkan barusan itu, hah?" tanyanya.
"Ng... anu, Bu..."
"Umm... Gini, Bu, sebenernya Dita mau ngajak saya jalan sepulang sekolah nanti," celetuk Ruben menyela, mengambil alih--bukan, tepatnya menyabotase--pembicaraan. "Tapi saya belum menjawabnya, karena itulah Dita lalu melemparkan kertas ini untuk meminta jawaban saya."
Seketika seisi kelas langsung bergemuruh dan bersorak "Wuuuuuuuuuuuu...!" panjang.
"Hah? A-apa...!?" Aku bengong. Kaget luar biasa.
Sialan! Bullshit banget tuh cowok! Dasar menyebalkan! Gue benciiii! Gue benci diaaaa...
"Sudah, sudah! Diam!" hardik Bu Matilda menenangkan suara riuh anak-anak. "Dengar, Dita, saya juga pernah muda dan saya tau itu memang hak kamu. Tapi kamu harus camkan ini baik-baik, kalau saya tidak suka jika kamu main-main dalam pelajaran saya--kecuali kalau kamu mau saya keluarkan."
Eh? Siapa yang main-main? Yang main-main dari tadi itu dia, si Ruben yang menyebalkan itu!
"Dengar anak-anak, ini juga berlaku buat kalian semua! Saya tidak suka kalau ada yang main-main seperti ini dalam pelajaran saya. Coba kalian bayangkan, akan jadi bagaimana nantinya nasib bangsa ini kalau kalian semua, para generasi muda penerus bangsa, kerjanya hanya main-main. Tidak disiplin..." Bu Matilda kemudian mulai berceramah panjang lebar (huff... itu memang hobinya sih!) yang membuat wajahku merah padam seperti tomat busuk. Karena topik ceramah itu sendiri bermula dari dirku dan dimaksudkan untuk menyindirku. Aku merasa sangat kesal, sekaligus malu di hadapan teman-teman sekelasku.
Selanjutnya...
Beri Aku Isyarat #2
Beri Aku Isyarat #3
Uh, menyebalkan! Kenapa sih aku mesti memikirkannya?
Namun detik berikutnya diriku benar-benar telah hanyut terbuai dalam lamunan...
Aku ingat, dan akan selalu kuingat, ada banyak saat 'indah' dan 'aneh' yang kulalui sama Ruben. Setiap hari di sekolah terasa begitu menyebalkan sekaligus... menyenangkan (uh, aku malas sekali sebenarnya untuk mengakuinya!) bersamanya.
Misalnya, pada saat jam pelajaran terakhir hari itu aku sedang konsentrasi mencatat penjelasan Bu Matilda, Guru Bahasa Inggris-ku, di papan tulis. Tiba-tiba sebuah bola kertas jatuh tepat di atas kepalaku. Itu adalah selembar kertas yang telah diremas sedemikian rupa hingga berbentuk menyerupai bola seukuran bola pingpong. Tuk!
Sial, siapa yang menimpukku? Pasti dia!
Aku segera menoleh ke meja Ruben yang terletak dua meja dari deretan belakang di lajur sebelah kananku. Kulihat cowok itu sedang nyengir, menikmati kesuksesan arah lemparannya yang akurat. Cengirannya persis kuda sumbawa--hieee...!
Sambil berdengus, aku lalu memungut kertas yang dilemparkannya itu. Kemudian kubuka, kubaca tulisan yang tertera di dalamnya. Berikut bunyinya:
"Dita jelek!
Wajah lo kelihatan tambah jelek kalau lagi serius nyatet seperti itu, tau! :D
--Ruben"
Wajahku langsung berkerut. Lobang hidungku bergerak kembang kempis meradang geram. Sial! makiku dalam hati. Dasar cowok menyebalkan!-Gue benciiii...
Aku lalu menuliskan kekesalanku itu di balik kertas yang dilemparkannya padaku tadi, kuremas, dan kulemparkan kembali bola kertas itu ke meja si empunya.
"Dita!" Tiba-tiba terdengar suara Bu Matilda menyalak-eh, berseru! "Apa yang kamu lemparkan barusan itu, hah?" tanyanya.
"Ng... anu, Bu..."
"Umm... Gini, Bu, sebenernya Dita mau ngajak saya jalan sepulang sekolah nanti," celetuk Ruben menyela, mengambil alih--bukan, tepatnya menyabotase--pembicaraan. "Tapi saya belum menjawabnya, karena itulah Dita lalu melemparkan kertas ini untuk meminta jawaban saya."
Seketika seisi kelas langsung bergemuruh dan bersorak "Wuuuuuuuuuuuu...!" panjang.
"Hah? A-apa...!?" Aku bengong. Kaget luar biasa.
Sialan! Bullshit banget tuh cowok! Dasar menyebalkan! Gue benciiii! Gue benci diaaaa...
"Sudah, sudah! Diam!" hardik Bu Matilda menenangkan suara riuh anak-anak. "Dengar, Dita, saya juga pernah muda dan saya tau itu memang hak kamu. Tapi kamu harus camkan ini baik-baik, kalau saya tidak suka jika kamu main-main dalam pelajaran saya--kecuali kalau kamu mau saya keluarkan."
Eh? Siapa yang main-main? Yang main-main dari tadi itu dia, si Ruben yang menyebalkan itu!
"Dengar anak-anak, ini juga berlaku buat kalian semua! Saya tidak suka kalau ada yang main-main seperti ini dalam pelajaran saya. Coba kalian bayangkan, akan jadi bagaimana nantinya nasib bangsa ini kalau kalian semua, para generasi muda penerus bangsa, kerjanya hanya main-main. Tidak disiplin..." Bu Matilda kemudian mulai berceramah panjang lebar (huff... itu memang hobinya sih!) yang membuat wajahku merah padam seperti tomat busuk. Karena topik ceramah itu sendiri bermula dari dirku dan dimaksudkan untuk menyindirku. Aku merasa sangat kesal, sekaligus malu di hadapan teman-teman sekelasku.
Selanjutnya...
Beri Aku Isyarat #2
Beri Aku Isyarat #3
Cappuccino-mate #1
by Adhi Glory
Sementara aku, sedari tadi hanya diam dan tak tahu harus berbuat apa.
Ya, aku tak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Nadine yang kukenal adalah sosok yang ceria dan periang. Berdua, biasanya kami selalu menghabiskan waktu dengan canda tawa di tempat ini. Bahkan saat-saat yang tidak menyenangkan dan tidak mengasikkan seperti ini, dimana aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Tapi sebagai sahabat, tentu saja aku ingin bisa memberdayakan diriku dan membantunya sebisa mungkin.
Aku mengulurkan sebuah sapu tangan. Nadine menerimanya, lalu disekanya air matanya yang menganak-sungai di pipinya.
Ada puluhan tanda tanya yang berputar-putar di atas kepalaku saat ini. Dan mungkin ada ratusan kata "kenapa" yang bergemuruh dan menggumpal di dalam kepalaku, memaksa untuk keluar. Tapi aku tak sampai hati untuk menyakannya, karena sejenak aku ingin membiarkannya mengeluarkan seluruh emosi dan segenap kesedihan yang menyesakkan rongga dadanya. Aku menatap Nadine penuh simpati.
Biarlah ia sendiri nanti yang akan cerita... pikirku.
Kenapa? Aku sendiri tidak jelas apa masalahnya. Tapi seingatku, aku segera meluncur ke tempat ini begitu mendapat telepon dari Nadine-dan tadi ia sempat menyebut-nyebut soal Zakki...
"Hallo?" kataku, mengangkat ponselku. Sore itu aku tengah asyik membaca komik One Piece favoritku ketika sebuah dering handphone menyadarkanku.
Terdengar suara Nadine di ujung sana. "Ga...!" Suaranya patah-patah. Dan tiba-tiba ia terisak kayak di sinetron!
"Ada apa, Nad? Lo kenapa!?"
"Gue... Zakki, Ga...!"
"Lo di mana sekarang? Di tempat biasa? Oke, tunggu disitu, gue segera ke sana ya!"
Tentu saja aku jadi terkejut dan khawatir mendengar telepon itu. Dan sekarang aku sudah berada di sini. Nadine menatapku. Ada kesedihan dan rasa kecewa mengambang di pelupuk matanya.
"Sekarang gue tahu, Ga," katanya akhirnya, dengan agak tertahan. Suaranya terdengar parau dan lirih. "Kenapa belakangan ini Zakki selalu menghindar setiap kali gue samperin, atau kenapa dia nggak pernah ngerespon telepon atau sms-sms gue beberapa hari terakhir ini. Juga kenapa selalu saja ada alasannya untuk menolak setiap kali gue ajak jalan. Dan segenap kenapa-kenapa lainnya ... gue sudah tau semuanya! Gue sudah tau, Ga!"
Selanjutnya...
Cappuccino-mate #2
Cappuccino-mate #3
Cerpen cinta lainnya... FREE E-BOOK
"Kok cuma dua sih? Kurang! Kami mau lagi!"
Lalu berapakah harga e-book ini?
GRATIS!
Ya, saya dengan senang hati memberikan e-book ini secara cuma-cuma.
Malah, kamu dipersilakan untuk membagikannya ke teman, pacar, atau orang-orang yang menurutmu akan suka membaca e-book ini.
It's free and feel free to share it! :)
Klik disini untuk men-download-nya.
Temui sang penulis!
Adhi Glory
Kamu bisa menghubunginya melalui:
E-mail: glory2go@gmail.com
Facebook: Adhi Glory
Twitter: @glory2go
Banyak TANDA CINTA untuk e-book "Love Stuff: Kumpulan Cerpen Cinta Paling Ciamiiik...!!" di Evolitera
Evolitera.co.id adalah situs sharing e-book gratis online buatan Indonesia. E-book Love Stuff: Kumpulan Cerpen Cinta Paling Ciamiiik...!! mendapatkan banyak "LOVE" (alias tanda cinta) dari pembaca di sana dan terus bertambah.
Cek disini.
Cek disini.
Entri terbaru dari blog Adhi Glory
[hey, kalau kamu menyukai cerpen di atas, mungkin kamu akan menyukai beberapa karya fiksi Adhi Glory lainnya!]
sihirkata.blogspot.com adalah blog yang mengkhususkan diri untuk memuat karya fiksi Adhi Glory dan diterbitkan secara berkala. Dua kali dalam seminggu (setiap Senin dan Kamis).
Feel free to read or share or subscribe. Have fun! :)
Feel free to read or share or subscribe. Have fun! :)
by glory2go
Feeling creative?
Create a Lens!
Explore related pages
- Kumpulan Cerpen Misteri Terbaik dan Paling Bikin Penasaran Kumpulan Cerpen Misteri Terbaik dan Paling Bikin Penasaran
- Kumpulan Cerpen Sihirkata Kumpulan Cerpen Sihirkata
- American Idioms American Idioms
- Best Spiritual Quotes on Prints, T-Shirts & Totes Best Spiritual Quotes on Prints, T-Shirts & Totes
- Cerpen Persahabatan Remaja Cerpen Persahabatan Remaja
- My Son's Favorite Children's Picture Books My Son's Favorite Children's Picture Books